PEREMPUAN

Perempuan adalah salah satu elemen masyarakat, Tentang perempuan adalah tentang masyarakat dan persoalan perempuan juga adalah persoalan masyarakat.

Sejatinya perempuan sama halnya dengan laki-Laki. Sama sama makhluk sosial yg dicipta tuhan dan menjadi bagian dari sebuah masyarakat.Tuhan tidak menyertakan label berbeda dalam derajad perempuan dan laki-laki. Namun faktanya sekarang, steriotipe soal perempuan yang lemah, nrimo, patut dilindungi acapkali masih sangat sering terdengar di telinga. Presepsi soal perbedaan tenaga, kekuatan, ketajaman pemikiran perempuan yang sering kali masih dipertanyakan perbandingannya dengan laki-laki. Sepertinya kita semua lupa akan sejarah dimana perempuanlah yang memimpin sebuah peradaban.

Pada zaman dimana kita masih hidup dengan sistem nomaden dan laki-laki berangkat berburu berminggu-minggu meninggalkan perempuan perempuan di gua-gua bersama anak anak mereka, munculah pemikiran akan takut kehabisan stok pangan, sehingga muncul ide bercocok tanam dalam kepala perempuan perempuan pada masa itu. Tubuhnya ditempa terik matahari yang panas, keringatnya bercucur, otot-otot terbentuk karena kerasnya menggarap ladang, terbentuklah tubuh wanita yg kekar yg jauh berbeda jika dibanding dengan perempuan sekarang.

Melihat bahwa pertanian adalah sektor yg sangat menguntungkan dan menjanjikan bekal hidup yg lebih layak, lelakipun berfikir untuk meneruskan usaha daripada perempuan, perempuan yg sudah menjelma sebagai motor pertanian yg mensuplay kebutuhan pangan tersebut. Perempuan disegani pada saat itu, bahkan mereka (laki2) seringkali menuruti apa permintaan perempuan pada saat itu. Inilah zaman matriarchat dimana tata kelola dipegang atau dikuasai oleh kaum perempuan.

Waktu berselang, perempuan2 diharuskan mengandung dan melahirkan sebagaimana tuhan telah memberinya anugrah, sehingga tidak bisa mengerjakan pekerjaan diladang. Pekerjaan pertanian selama wanita mengandung dan melahirkan dikerjakan oleh laki-laki.

Lambat laun perempuan-perempuan hanya tinggal dirumah mengurus anak dan suaminya, dan laki-laki bekerja ditempa terik dan hujan diladang. Perubahan fisikpun terjadi, otot perempuan-perempuan itu tidak lagi dilatih, dan gaya hidup yang demikian diturunkan selama beratus ratus tahun hingga sekarang.

Terbentuklah sistem patriachat dimana tata kelola masyarakat dipegang oleh dinasti kaum laki-laki. Mulai dari tali keturunan, sektor pekerjaan, kemasyarakatan dll.

Dengan demikian seharusnya setelah sadar bahwa dinasti matriachat dan patriacat yang sama sama sudah berkuasa pada zamannya kita harus mengerti bahwa persoalan masyarakat bukanlah disebabkan oleh satu elemen masyarakat. Akan tetapi satu masalah dalam elemen masyarakat adalah masalah masyarakat bersama.

Eksploitasi-eksploitasi berbasis gender harusnya diselesaikan atas nama kemasyarakatan. Seperti soekarno berkata, laki-laki dan perempuan itu ibarat sepasang sayap burung, jika patah satu maka tak dapat burung itu terbang tinggi.
Maka jika keadilan tidak dirasakan salah satu elemen masyarakat, maka niscaya terbentuk masyarakat yang sehat.

Selamat Hari Perempuan

Penulis:Eka Ritma Ardani
Mahasiswa IKIP PGRI Bojonegoro Jurusan Pendidikan matematika
Ketua Komisariat FPMIPA IKIP GMNI Bojonegoro

Asal Desa banyuurip kecamatan Senori Kabupaten Tuban